Oleh: Imroatul Mufidah, S.Pd.
Sebanyak kurang
lebih 124 siswa kelas 3 SD Islam Sabilillah Malang didampingi 8 guru pembimbing
melakukan kunjungan belajar ke Museum Zoologi Frater Vianney Malang,
pada hari Sabtu, 24 November 2012. Musium ini berada di kompleks bangunan Yayasan Mardi
Wiyata
yang terletak di jalan Karang Widoro Malang. Museum Zoologi Frater Vianney
tidak begitu dikenal masyarakat. Padahal, tempat ini bisa menjadi rujukan utama
bagi para pecinta wisata science (ilmu pengetahuan). Musium ini memiliki ratusan spesimen konkologi, ilmu hewan kerang- kerangan darat dan
laut, serta herpetologi (ilmu tentang biologi ular) dalam keadaan sudah
terklasifikasi lengkap.
Rombongan
diterima langsung oleh ibu Denice, dengan ramah beliau menyapa siswa-siswi dari
SDI sabilillah dan mempersilahkan menuju lokasi aula utama. Para siswa
membentuk 3 kelompok, kelompok pertama berada di aula untuk belajar langsung bersama
ibu Denice untuk mengenal hewan ular. Mereka terlihat sangat senang. Ibu Denice
menunjukkan Ular Cobra yang sudah diawetkan, dan ular Piton yang masih hidup.
Beliau meminta kepada siswa untuk memegang, mengamati, dan merasakan satu
persatu secara bergantian. Diantara siswa ada yang terlihat ketakutan, ada yang
terlihat geli, bahkan ada yang sangat berani memegang ular. “hiiii..... geli bu,
perutnya bergaris-garis” kata Orva salah seorang siswa 3A. Setelah itu, siswa
diberi Lembar Kerja untuk mendiskripsikan sebanyak-banyaknya ciri-ciri ular secara
umum berdasarkan apa yang sudah mereka pegang, mereka amati, dan mereka
rasakan.
Para siswa terlihat sangat senang, mereka berhasil
menuliskan dan menyebutkan deskripsi sebanyak-banyaknya tentang ular, antara
lain, memiliki kepala, memiliki sisik, memiliki mata kecil, bentuknya seperti
sendok, perutnya bergaris, termasuk hewan berbisa, bergerak dengan cara melata,
termasuk hewan vertebrata, dan masih banyak lagi ciri yang bisa disebutkan oleh
para siswa. Dengan mengajak para siswa mengenal ular, mereka akhirnya bisa tahu
bahwa ular adalah hewan yang tergolong ke dalam jenis reptil. Ular mempunyai tubuh
yang panjang dan bersisik. Kita sering menganggap bahwa ular merupakan hewan
berbahaya karena mempunyai bisa atau racun yang mampu membuat mahluk hidup mati
bila digigit oleh ular tersebut, sehingga kita menganggap, bahwa ular memang bukan hewan yang baik untuk di
pelihara. Memang rata-rata ular memiliki bisa yang berbahaya. Namun ada juga
beberapa ular yang racun dan bisanya tidak berbahaya. Para siswa di sini juga mendapat ilmu bahwa bisa atau racun ular tersebut terbagi menjadi dua macam, yaitu neurotoxin
dan hemotoxin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan
dan merusak otak korban yang tergigit sedangkan hemotoxin adalah racun
yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan berujung pada kematian. Namun ada beberapa ular yang tidak
memiliki bisa yang berbahaya dan bahkan tidak memiliki bisa sekalipun. Sehingga
ular yang tidak berbahaya itu banyak diburu masyarakat khususnya pencinta ular
untuk mereka pelihara. Namun sekarang ular menjadi tantangan sekaligus hobi
tersendiri bagi masyarakat yang menyukainya.
Sementara itu,
di tempat yang lain terlihat beberapa kelompok yang sedang asyik melakukan
pengamatan dan didampingi oleh para pemandu. Para siswa
diarahkan untuk memasuki ruang utama yang menyimpan berbagai macam koleksi yang
tergolong langka. Mereka dibuat berdecak kagum dengan berbagai macam satwa yang
telah diawetkan. Koleksi yang telah diawetkan tersebut ditempatkan pada
masing-masing lemari dengan kaca transparan untuk memudahkan pengunjung melihat
lebih dekat. Berbagai macam koleksi dipajang di almari.
Mulai dari ular yang telah diawetkan dan disimpan di toples, siput-siput laut,
kerang raksasa, penyu raksasa, kupu-kupu dan serangga yang ditempel di kanvas
dinding sampai kepala rusa yang terpasang di dinding yang seakan-akan sedang
mengawasi para siswa . Tidak ketinggalan pula, sang raja hutan singa dengan taringnya
yang siap menerkam terpajang dengan baik di salah satu sudut ruangan.
Selain koleksi satwa mati yang telah diawetkan, para siswa juga diajak
berjalan-jalan untuk menyaksikan satwa hidup secara langsung, seperti ular, buaya, kura-kura, musang dan
ikan. “Bu, tadi aku memegang ular piton,
lucu bu, lidahnya menjilat-jilat.” Kata Rifa salah seorang siswa kelas 3C.
Akhirnya tak terasa, waktu pun sudah menunjukkan pukul 10.15. Pak Bisri Mustofa
salah satu koordinator kunjungan wisata meniup peluit dan bertanda bahwa para
siswa harus segera berkumpul untuk kembali ke sekolah. Padahal mereka masih
terlihat asyik bermain di halaman musium, yang makan, minum, duduk-duduk sambil
menikmati udara yang sejuk. Tak lama kemudian, mereka pun segera kembali ke armada masing-masing dan
melanjutkan perjalanan menuju sekolah SD Islam Sabilillah.
Untuk mengajak anak mengenal lebih jauh tentang dunia
hewan tidaklah mudah. Pemberian materi di kelas sebagai bahan ajar saja, tidaklah cukup untuk menggugah kesadaran mereka akan
pentingnya peran hewan dalam kehidupan. Namun paling tidak, dengan kegiatan kunjungan
belajar ini, adalah salah satu upaya yang dapat digunakan untuk menarik perhatian anak mengetahui dunia hewan lebih
jauh lagi. Semoga kegiatan ini bermanfaat
bagi siswa maupun kita semua. Amin........... (Tim Tematik Kelas 3)