Kamis, 02 Mei 2013

Guru Profesional dalam Menyongsong Kurikulum 2013

belajar bekerjasam
Oleh: 
Imroatul Mufidah, S.Pd.



Akhir-akhir ini kurikulum 2013 menjadi suatu bahan perbincangan yang sangat menarik, terutama di kalangan pendidik (guru). Mereka banyak yang kurang setuju dengan pemerintah yang akan mengembangkan kurikulum 2013. Saya telah membaca salah satu media massa yang tengah membahas banyaknya kritik dan serangan terhadap Kurikulum 2013. Pada kenyataannya banyak sekali pro dan kontra mengenai akan diterbitkannya kurikulum 2013. Akan tetapi hal itu ternyata tidak menyurutkan langkah pemerintah. Karena terbukti Kurikulum 2013 akan tetap dilaksanakan pada pertengahan Juli nanti dengan pendekatan terbatas dan bertahap.

Menurut saya, banyaknya berbagai pendapat pro dan kontra tentang kurikulum 2013 itu wajar-wajar saja. Kurikulum 2013 dikembangkan tentunya untuk meningkatkan capaian pendidikan. Tergantung bagaimana persiapan kita dalam menyonsongsong Kurikulum 2013 ini, yang nantinya akan berdampak pada berbagai upaya persiapan yang harus dilakukan berbagai pihak, antara lain: tersusun dan disahkannya naskah penyempurnaan kurikulum yang utuh, sosialisasi naskah kurikulum yang sudah disahkan, kesiapan dinas pendidikan daerah menyongsong kurikulum 2013, kesiapan kepala sekolah dalam mengelola penyelenggaraan pendidikan dalam satuan pendidikan, kesiapan guru mata pelajaran dalam melaksanakan pembelajaran yang mendidik, kesiapan guru bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan kesiapan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menyiapkan lulusan siap melaksanakan tugas Kurikulum 2013.
Berdasarkan sumber yang saya baca, Kurikulum 2013 merupakan kelanjutan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Selain itu penataan Kurikulum pada Kurikulum 2013 dilakukan sebagai amanah dari Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang SIstem Pendidikan Nasional dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dengan 2 (dua) strategi utama yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas pembelajaran dicapai melalui 3 tahapan yaitu efektifitas Interaksi, efektifitas pemahaman, dan efektifitas penyerapan.

 Pertama, Efektifitas Interaksi akan tercipta dengan adanya harmonisasi Iklim akademik dan budaya sekolah . Iklim dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan dari kepala sekolah dan jajarannya. Efektifitas Interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah.
 Kedua, Efektifitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektifitas pembelajaran. Efektifitas tersebut dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (Menyimak, Melihat, Membaca, Mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan,  mengkomunikasikan. Oleh karena itu Penilaian berdasarkan proses dan hasil pekerjaan  serta kemampuan menilai sendiri.
 Ketiga, Efektifitas Penyerapan dapat tercipta mana kala adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesimbungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat SD, kelas VII sampai dengan IX pada tingkat SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII. Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertikal bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat SD, SMP, sampai dengan SMA/SMK.

            Sinergitas dari ketiga efektifitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transfomasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia.

 Selanjutnya, penerapan kurikulum 2013 diimplementasikan adanya penambahan jam pelajaran. Hal tersebut sebagai akibat dari adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penilaian yang semula dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output.

Oleh karena itu, dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 tersebut, yang jauh lebih penting adalah kita yang berperan sebagai seorang pendidik. Guru merupakan ujung tombak terdepan dalam pelaksanakan kurikulum. Oleh karena itu betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen dan tanggung jawabnya serta kesejahteraannya yang harus terjaga,” Kompetensi guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan, tetapi bagaimana membelajarkan siswa yang menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu, dan merefleksi.

Kurikulum penting, tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana strategi membelajarkan dan spiritnya. Dengan strategi pembelajaran yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan spirit pendidikan yang selalu menggelora pada setiap guru atau pendidik dan peserta didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari rohnya. 

Sumber:
Hamalik, Oemar. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
 


Kamis, 18 April 2013

Pembelajaran Menyenangkan "Belajar Dunia Hewan di Musium ZOOLOGI Frater Vianney""




Oleh: Imroatul Mufidah, S.Pd.
Sebanyak kurang lebih 124 siswa kelas 3 SD Islam Sabilillah Malang didampingi 8 guru pembimbing melakukan kunjungan belajar ke Museum Zoologi  Frater Vianney  Malang, pada hari Sabtu, 24 November 2012. Musium ini berada di kompleks bangunan Yayasan Mardi Wiyata yang terletak di jalan Karang Widoro Malang. Museum Zoologi Frater Vianney tidak begitu dikenal masyarakat. Padahal, tempat ini bisa menjadi rujukan utama bagi para pecinta wisata science (ilmu pengetahuan). Musium ini memiliki ratusan spesimen konkologi, ilmu hewan kerang- kerangan darat dan laut, serta herpetologi (ilmu tentang biologi ular) dalam keadaan sudah terklasifikasi lengkap.
Rombongan diterima langsung oleh ibu Denice, dengan ramah beliau menyapa siswa-siswi dari SDI sabilillah dan mempersilahkan menuju lokasi aula utama. Para siswa membentuk 3 kelompok, kelompok pertama berada di aula untuk belajar langsung bersama ibu Denice untuk mengenal hewan ular. Mereka terlihat sangat senang. Ibu Denice menunjukkan Ular Cobra yang sudah diawetkan, dan ular Piton yang masih hidup. Beliau meminta kepada siswa untuk memegang, mengamati, dan merasakan satu persatu secara bergantian. Diantara siswa ada yang terlihat ketakutan, ada yang terlihat geli, bahkan ada yang sangat berani memegang ular. “hiiii..... geli bu, perutnya bergaris-garis” kata Orva salah seorang siswa 3A. Setelah itu, siswa diberi Lembar Kerja untuk mendiskripsikan sebanyak-banyaknya ciri-ciri ular secara umum berdasarkan apa yang sudah mereka pegang, mereka amati, dan mereka rasakan.
Para siswa terlihat sangat senang, mereka berhasil menuliskan dan menyebutkan deskripsi sebanyak-banyaknya tentang ular, antara lain, memiliki kepala, memiliki sisik, memiliki mata kecil, bentuknya seperti sendok, perutnya bergaris, termasuk hewan berbisa, bergerak dengan cara melata, termasuk hewan vertebrata, dan masih banyak lagi ciri yang bisa disebutkan oleh para siswa. Dengan mengajak para siswa mengenal ular, mereka akhirnya bisa tahu bahwa ular adalah hewan yang tergolong ke dalam jenis reptil. Ular mempunyai tubuh yang panjang dan bersisik. Kita sering menganggap bahwa ular merupakan hewan berbahaya karena mempunyai bisa atau racun yang mampu membuat mahluk hidup mati bila digigit oleh ular tersebut, sehingga kita menganggap, bahwa ular memang bukan hewan yang baik untuk di pelihara. Memang rata-rata ular memiliki bisa yang berbahaya. Namun ada juga beberapa ular yang racun dan bisanya tidak berbahaya. Para siswa di sini juga mendapat ilmu bahwa bisa atau racun ular tersebut terbagi menjadi dua macam, yaitu neurotoxin dan hemotoxin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban yang tergigit sedangkan hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan berujung pada kematian. Namun ada beberapa ular yang tidak memiliki bisa yang berbahaya dan bahkan tidak memiliki bisa sekalipun. Sehingga ular yang tidak berbahaya itu banyak diburu masyarakat khususnya pencinta ular untuk mereka pelihara. Namun sekarang ular menjadi tantangan sekaligus hobi tersendiri bagi masyarakat yang menyukainya.
Sementara itu, di tempat yang lain terlihat beberapa kelompok yang sedang asyik melakukan pengamatan dan didampingi oleh para pemandu. Para siswa diarahkan untuk memasuki ruang utama yang menyimpan berbagai macam koleksi yang tergolong langka. Mereka dibuat berdecak kagum dengan berbagai macam satwa yang telah diawetkan. Koleksi yang telah diawetkan tersebut ditempatkan pada masing-masing lemari dengan kaca transparan untuk memudahkan pengunjung melihat lebih dekat. Berbagai macam koleksi dipajang di almari. Mulai dari ular yang telah diawetkan dan disimpan di toples, siput-siput laut, kerang raksasa, penyu raksasa, kupu-kupu dan serangga yang ditempel di kanvas dinding sampai kepala rusa yang terpasang di dinding yang seakan-akan sedang mengawasi para siswa . Tidak ketinggalan pula, sang raja hutan singa dengan taringnya yang siap menerkam terpajang dengan baik di salah satu sudut ruangan.
Selain koleksi satwa mati yang telah diawetkan, para siswa juga diajak berjalan-jalan untuk menyaksikan satwa hidup secara langsung,  seperti ular, buaya, kura-kura, musang dan ikan.  “Bu, tadi aku memegang ular piton, lucu bu, lidahnya menjilat-jilat.” Kata Rifa salah seorang siswa kelas 3C. Akhirnya tak terasa, waktu pun sudah menunjukkan pukul 10.15. Pak Bisri Mustofa salah satu koordinator kunjungan wisata meniup peluit dan bertanda bahwa para siswa harus segera berkumpul untuk kembali ke sekolah. Padahal mereka masih terlihat asyik bermain di halaman musium,  yang makan, minum, duduk-duduk sambil menikmati udara yang sejuk. Tak lama kemudian, mereka pun  segera kembali ke armada masing-masing dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah SD Islam Sabilillah.
Untuk mengajak anak mengenal lebih jauh tentang dunia hewan tidaklah mudah. Pemberian materi di kelas sebagai bahan ajar saja, tidaklah cukup untuk menggugah kesadaran mereka akan pentingnya peran hewan dalam kehidupan. Namun paling tidak, dengan kegiatan kunjungan belajar ini, adalah salah satu upaya yang dapat digunakan untuk menarik perhatian anak mengetahui dunia hewan lebih jauh lagi. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi siswa maupun kita semua. Amin........... (Tim Tematik Kelas 3)

Jumat, 12 April 2013

Menciptakan Proses Pembelajaran Menarik dan Menyenangkan


                  Oleh: Imroatul Mufidah, S. Pd

…wah tidak asyik nih guru…, membosankan…,…bikin ngantuk,..kalau menerangkan  tidak jelas,…ceramah terus tiap hari, mending aku baca komik aja deh…

Sering terucap dari mulut siswa komentar tentang guru dengan metode pembelajaran yang dianggap siswa membosankan. Siswa yang merasa bosan akan melakukan aktivitas-aktivitas lain di luar kontrol guru. Karena mereka merasa percuma, dengan mendengarkan ataupun tidak,  mereka tetap tidak paham, sehingga mereka melakukan hal-hal yang membuat mereka tidak bosan. Prihatin sekali melihat siswa-siswa kita! Selama jam pelajaran di sekolah, mereka sibuk mencatat ringkasan materi pelajaran atau mengerjakan LKS berupa lembar tumpukan soal-soal yang diberikan guru. Mereka mencatat ringkasan-ringkasan atau mengerjakan soal-soal yang ada pada LKS itu tanpa mengerti tujuan dari yang ia kerjakan itu. Di rumah, mereka menghafal ringkasan-ringkasan itu untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan. Karena banyaknya ringkasan tersebut, para siswa tiap hari harus menghafal begitu banyak. Karena banyak sekali tugas menghafal yang harus dilakukannya, para siswa menjadi tidak punya waktu untuk membaca. Jangankan membaca, untuk bermainpun mereka tidak sempat, mereka harus menghafal dan menghafal.

Menghafal buta tanpa mengerti arti yang dihafalkan atau mengerjakan soal-soal yang ada pada LKS tanpa mengerti yang ia kerjakan, maka membuat mereka cepat bosan. Akibatnya siswa menjadi tidak berminat untuk mengetahui lebih lanjut. Sehingga mereka akhirnya sungkan untuk belajar dan malas untuk membaca. Padahal minat belajar dan membaca timbul apabila siswa mempunyai minat untuk mengetahui lebih lanjut. Akibat lain dari menghafal buta, siswa menjadi tidak kreatif.

Siswa giat belajar, siswa gemar membaca, dan siswa yang kreatif merupakan keinginan kita sebagai guru, hari ini dan di masa depan. Karena siswa seperti itulah yang akan menjadi calon manusia unggul yang menguasai zaman di abad era globalisasi .

Sekarang “apa yang kita lakukan sebagai guru untuk Mewujudkan keinginan tersebut?” Jawabnya adalah “Menciptakan proses pembelajaran yang menarik dan

Menyenangkan.” Sehingga menjadikan siswa belajar sangat antusias dan penuh semangat, mereka dapat mencapai kompetensi baik dari aspek pemahaman maupun kerja ilmiah.

Ada korelasi positif antara guru yang menyenangkan dengan hasil belajar siswa. Jika seseorang senang dan serius menerima pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru, maka potensi untuk menyerap materi-materi itu lebih besar ketimbang dari guru yang tidak disukainya. Dahulu ketika kita menjadi muridpun, tentu kita pernah mengeluhkan hal serupa. Secara sadar dan tak sadar sekarang kita menjadi guru. Sekarang giliran kita yang akan menerima komentar-komentar negatif tersebut jika pembelajaran yang kita sajikan kurang menarik bagi mereka. Dan tentunya kita tidak ingin dicap sebagai guru yang “membosankan dan monoton”.

Bagaimana agar proses belajar mengajar itu menyenangkan ?

 Untuk mencipatakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan diperlukan ketrampilan yang harus dimilki oleh seorang guru. Ketrampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. Salah satu dari keterampilan yang harus dimiliki oleh guru adalah variasi metode pembelajaran seperti : gaya mengajar, penggunaan media dan sumber belajar, pola interaksi, serta variasi dalam kegiatan pembelajaran.

Pertama , proses belajar  harus selaras dengan tahap kemampuan siswa. Jika pelajaran terlalu mudah, siswa akan menjadi bosan. Jika pelajaran itu terlalu sukar, siswa akan menjadi patah semangat. Jadi harus ada penyesuaian dengan kemampuan siswa dan tingkat kesukaran belajar.

Kedua , materi pelajaran harus dijadikan masalah. Tanpa adanya masalah, siswa tidak terdorong untuk terlibat belajar secara aktif. Siswa hanya terpaksa menelan informasi dan menghafal saja. Cara belajar dengan memecahkan masalah terwujud paling baik melalui proses tanya jawab. Kelebihan belajar melalui tanya jawab adalah : 

a.     Dengan pertanyaan, siswa didorong untuk berfikir.
b.     Siswa mempelajari cara menyelesaikan masalah.
c.     Tujuan pelajaran cepat dicapai sebab jalan berfikir
        dibimbing dengan pertanyaan-pertanyaan.
d.     Siswa belajar secara aktif, sebab mereka harus
        berfikir untuk menjawab pertanyaan.
e.     Siswa merasa dituntut untuk belajar secara teratur,
        sebab jika tidak, ia tidak dapat menjawab pertanyaan
        dan tidak dapat maju ke tahap berikutnya.
f.      Setiap waktu siswa mengetahui tingkat kemajuannya. Jika siswa tidak dapat menjawab pertanyaan,
        ia harus kembali ke    pertanyaan pada tingkat yang lebih rendah.
g.    Siswa berfikir secara teratur.

Ketiga, Siswa harus mengalami bahwa belajar adalah proses yang tidak sukar. Ini terwujud jika pelajaran-pelajaran tersusun atas tahapan-tahapan kecil yang dapat terjangkau siswa. Setiap tahapan selalu berkaitan dengan tahapan lain (berkesinambungan), dan maju selangkah demi selangkah sesuai dengan pencapaian siswa. Pada setiap tahapan pelajaran, siswa harus dilatih memecahkan persoalan (sebut saja soal) yang berbeda/bervariasi. Tingkat kesukaran juga harus naik selangkah demi selangkah, mulai dari yang termudah hingga pada yang sukar. Sehingga siswa akan mengerti makna tentang mata pelajaran.

Keempat, siswa harus mengalami bahwa proses belajar itu mencakup hal-hal yang menarik perhatiannya, yaitu yang membangkitkan rasa takjub, heran, dan rasa ingin tahu. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang tepat, siswa menemukan hal-hal yang menarik dalam kejadian sehari-hari yang nampak “biasa” menjadi luar biasa. Sebaliknya, siswa juga berkenalan dengan kejadian-kejadian yang memang menakjubkan.

Kelima, siswa harus mengalami bahwa apa yang ia pelajari dapat diterapkan. Memang, sasaran pembelajaran dikatakan tercapai /berhasil jika apa yang dipelajari diterapakan (diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari) sedangkan sesuatu yang tidak dipahami so pasti tidak bisa digunakan,. Salah satu contoh adalah pembelajaran yang sudah diterapkan di sekolah SD Islam Sabilillah Malang, guru sedikit banyak sudah berupaya untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.
   
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bahan refleksi diri bagi kita sebagai guru yang ingin menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan yang menyenangkan bagi siswa-siswanya. Sehingga tujuan Pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai

Uraian yang ada dalam tulisan ini hanya merupakan sebagian kecil usaha penulis selaku guru dalam upaya menciptakan langkah-langkah pembelajaran agar dapat menarik minat siswa untuk senang belajar.

Mudah-mudahan dengan tertariknya siswa untuk senang belajar, mutu dan kwalitas pendidikan pada era global di Indonesia akan lebih baik.   Amiin.



 

Kamis, 11 April 2013

Menjadi Guru yang Berkualitas dalam Mewujudkan Aktivitas C-Generation


                                              Oleh: Imroatul Mufidah, S. Pd.


Memasuki awal tahun 2021, tantangan bagi dunia pendidikan amatlah berat. Para pendidik haruslah yang mampu memperbaiki cara mengajarnya dari pembelajaran dengan paradigma lama menuju baru. Sebab saat ini kita menghadapi peserta didik yang disebut Digital Native atau penduduk asli dalam dunia digital.

Dunia pendidikan yang terus berkembang juga perkembangan teknologi. Teknologi ada, bukan untuk mengganti fungsi guru, tetapi justru menjadi alat bantu guru dalam menyampaikan materi pelajarannya. Itu guru harus melek dan tidak gaptek dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasiatau yang sering kita kenal dengan singkatan ICT. Guru harus mau terus belajar menambah ketrampilan dan pengetahuannya. Mampu mengintegrasikan ICT dalam pembelajaran yang menyenangkan bagi para peserta didik. Dalam hal ini, para pendidik harus mampu memanfaatkan komputer dan internet untuk pendidikan. Oleh karena itu para guru harus segera meninggalkan budaya lama menuju budaya baru dan mengubah pola berpikirnya untuk memanfaatkan ICT untuk kemajuan pendidikan.

Kemajuan Teknologi yang begitu cepat di abad ke-21 ini telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk proses belajar mengajar. Ketika sumber informasi bisa diakses dari mana saja tanpa hambatan, para pendidik dituntut untuk memanfaatkan kemajuan tersebut untuk menemukan cara pembelajaran yang lebih efektif. Oleh sebab itu, saatnya kita harus mengucapkan selamat datang aktivitas belajar C-Generation.

Dalam aktivitas belajar C-Generation, aktivitas belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Para guru dituntut untuk membangun konten-konten edukatif yang membuat para peserta didiknya menjadi kreatif. Salah satunya adalah membangun blog sebagai media pembelajaran. Di dalam blog guru it, semua penugasan, materi singkat maupun padat dituliskan di sana. Maka terjadilah diskusi dan komunikasi dua arah antara guru dan murid, di mana para murid mampu memberikan tanggapan dari apa yang dituliskan oleh para guru.

Para peserta didik akan dengan mudah mengakses dari mana pun dan kapan saja. Mereka bisa mengakses dari rumah melalui komputer , laptop atau handphone mereka. Berbagai peralatan canggih seperti ipad dannetbook mungil tentu sangat digemari mereka dalam pemanfaatannya. Dan tentunya harus tetap didampingi orang tua, sehingga terjadilah Connecting and sharing antara pendidik dan peserta didiknya di era natizen ini. Sehingga komputer tidak masuk akal hanya untuk bermain game saja, tetapi bisa kita manfaatkan sebagai media pembelajaran.

Contohnya adalah sebagian guru yang mengajar di SD Islam Sabilillah Malang. Sedikit banyak, beliau sudah membuat blog dan mengupload file-file materi pembelajaran. Dan disinilah kreativitas para guru diuji. Bila guru kreatif, maka akan ada produk pembelajaran baru yang akhirnya mampu membuat pelajaran menjadi menyenangkan untuk semua. Disamping itu sekolah SD Islam Sabilillah Malang juga sudah memiliki komputer server yang bagus, dengan kapasitas memori dan harddisk yang besar, serta mampu membuat perpustakaan online dalam bentuk internet yang terhubung ke setiap ruang kelas. Tentunya, semakin menyenangkan cara belajar seperti itu, dan terjadilah proses belajar yang di mana guru mampu mengembangkan potensi unik yang dimiliki oleh para peserta didiknya. Oleh karena itu kita sebagai pendidik harus dapat memahami gaya belajar siswa dalam aktivitas belajar C-Generaton .

Kegiatan belajar C-Generation para guru diharapkan mampu membuat materi pengayaan yang dibuat dalam bentuk jurnal online yang terhubung dengan Google Books dan memudahkan siswa dalam pencariannya. Dengan demikian, para siswa atau peserta didik tidak hanya dalam mencari informasi saja, tetapi juga meningkatkan informasi di internet.

Dalam aktivitas pembelajaran C-Generation, guru dan siswa dituntut untuk terampil dalam menulis. Dengan terampil menulis, maka akan banyak materi pembelajaran yang dibuat sesuai dengan Standar Kompetensi (SK), dan Kompetensi Dasar (KD) yang diujikan dalam kurikulum. “Ingatlah menjadi guru itu harus mutakhir, harus punya laptop. Soalnya dengan modal Laptop plus koneksi internet, seorang guru bisa memperluas wawasan dan menjelajahi hal-hal baru. Dua hal itu sangat penting dimiliki untuk mencapai predikat guru profesional pada abad ke-21. ” Ujar Prof. Dr. Arief Rachman M.Pd yang tertulis dalam buku (Wijaya Kusuma, S.Pd, M. Pd.)

Akhirnya, saya ucapkan selamat datang aktivitas belajar C-Generation. Mari kita menjadikan diri kita sebagai guru yang berkualitas dan profesional dengan mencoba dan membangun Blog untuk mendukung pembelajaran. Karena metode pembelajaran yang baik dan menarik akan dapat menumbuhkan minat dan kecintaan peserta didik karena materi yang diberikan dalam suasana yang menyenangkan. Guru senang, peserta didik pun senang.